Author [EN] [PL] [ES] [PT] [IT] [DE] [FR] [NL] [TR] [SR] [AR] [RU] Topic: Touring keliling Jawa (21-31 Desember 2013) .... Bukan Touring Biasa (Part-1)  (Read 4151 times)

Chef Ubanovich

Tour ini sebenarnya berawal dari keinginan istri untuk liburan ke Solo dan Malang dengan menggunakan mobil. Sedangkan bagi saya pribadi . sebagai orang Jawa merasa iri dengan teman-teman yang begitu mengenal mapping kota-kota di sepanjang pulau Jawa.

Dan dorongan untuk touring dengan mobil menjadi semakin kuat, setelah Oom Kompor aka Oom Yanto mengajak para pawang Buaya untuk ke Bromo melalui group Whatsapp CEO, memanfaatkan masa libur panjang di bulan Desember. Tidak adanya sambutan dari para pawang yang kemudian diistilahkan oleh OY pawang pada gak punya titit, tidak menyurutkan keinginan saya. Touring sendirian pun jadilah pikir saya.

Tak disangka, Oom Ketum alias Oom Harry Musadi mengontak saya melalui WA. Ternyata Oom HM berencana ke Pacitan dan Bromo via Jogya. Akhirnya .. rencana destination saya dan oom HM diblend dan menghasilkan destination : Jakarta Solo Pacitan Malang Bromo Surabaya.

Untuk booking penginapan di Solo (Grand Orchid Hotel), Pacitan (Prasasti Hotel) dan Surabaya (Country Heritage Resort) . Sudah dilakukan oleh oom HM seminggu sebelum keberangkatan. Untuk penginapan di Malang, oom HM menginap di Guest House di Jl. Gajayana. Sedangkan saya menginap di rumah Bude.
Sedangkan setelah dari Surabaya, saya sengaja tidak ikut oom HM karena ingin merasakan suasana solo touring.

PERSIAPAN TOURING
Menjaga kondisi kendaraan agar selalu fit, sudah menjadi menu wajib sehari-hari. Jadi untuk touring jauh yang pertama kali akan saya lakukan, rasanya kok pede saja dengan kondisi kendaraan. Namun tetap saja, ritual tune up tetap perlu saya lakukan. Dan seperti kendaraan saya sebelumnya tune up saya lakukan sendiri.

Berikutnya adalah management bagasi. Touring panjang dengan singgah rencana singgah di beberapa kota, tentu berbeda dengan sekedar bepergian jauh. Untuk alasan kepraktisan, maka kita perlu mengemas pakaian-pakaian yang akan dibawa berdasarkan kebutuhannya. Jadi saat tiba di kota-kota tujuan, kita hanya perlu menurunkan pakaian-pakaian yang diperlukan (seperlunya). Hal ini tentu perlu dijadikan pertimbangan, karena kota-kota yang akan disinggahi memiliki bermacam karakter. Mulai kota persiinggahan biasa, pantai dan pegunungan yang dingin.

Diluar management pengepakan pakaian, tentunya perlu persiapan yang umum dilakukan saat bepergian jauh. Seperti kue-kue/camilan, air mineral ataupun minuman lainnya, obat-obatan yang diperlukan, senter, perlengkapan shalat dan peralatan kunci-kunci mobil yang diperlukan. Perlu pengaturan tata letak dalam bagasi, agar barang-barang yang nantinya urgent diperlukan akan mudah diraih/diambil.

21/12/2013 - ETAPE 1 :
Jakarta Bandung Nagrek Sukamerang Malangbong Ciawi Cikoneng Ciamis Banjar Wanareja Sidareja Wangon Rawalo Banyumas Banjarnegara Wonosobo Temanggung Secang Ambarawa Salatiga Boyolali Solo.

Rencana semula janjian ketemu oom HM dengan meeting point di Km. 19 tol Cikampek antara pk. 22.00 23.00. Namun karena ada acara selamatan di komplek, keberangkatan saya molor hingga pk. 22:30. Akhirnya tikum di geser ke rest area terakhir di tol Cileunyi (Bandung).

Tiba di rest area Km. 167, saya bertemu oom HM dan rombongan oom Djoe yang akan menuju Jogya. Setelah melepas penat sejenak dan foto bersama, Oom Djoe melanjutkan perjalanan lebih dulu.

Setelah oom HM mengisi BBM, touring panjang Chevrolet beda jenis (Estate dan Orlando) ini dimulai. Kami mulai menembus jalur Selatan dengan lekak-lekuk yang menantang ditengah pekatnya malam dan disertai guyuran hujan. Komunikasi antar mobil menggunakan HT (handy talkie) saat touring sesekali ikut menjaga konsentrasi berkendara semacam ini, apalagi badan saat itu tidak terlalu fit karena siang hari tidak sempat beristirahat dengan cukup.

22/12/2013
Saat azan Subuh, kami kemudian merapat ke sebuah SPBU di daerah Malangbong untuk istirahat dan menunaikan shalat Subuh. Setelah tubuh terasa segar, perjalanan pun kami lanjutkan.

Tiba di daerah Ciawi, kami merapat kembali ke sebuah rumah makan Pringsewu untuk sarapan. Tak disangka, kami kembali bertemu dengan rombongan oom Djoe. Setelah mengisi perut dan berfoto bersama (lagi), oom Djoe lagi-lagi meninggalkan kami untuk melanjutkan perjalanan.

Late lunch time .. akhirnya kami mampir di warung makan Bu Rahayu di daerah sekitar Banyumas . Setelah selesai shalat Dhuhur dan digabung dengan Ashar, ditengah hujan lebat siang itu perjalanan kami lanjutkan ke arah Banjarnegara, karena Kebumen tidak dapat dilalui akibat banjir.

Perjalanan penuh tantangan, adalah saat melalui celah G. Sindoro dan G. Sumbing di jalur Wonosobo Kretek Parakan Temanggung. Hari sudah mulai gelap kembali ditingkahi hujan dan kabut serta jalan yang sempit serta diselingi acara nyasar karena GPS andalan kami tidak mendapatkan signal yang cukup, akhirnya kami berhasil kembali ke daerah penuh peradaban saat masuk kota Temanggung.

Kami masuk kota Solo sekitar pk. 22:00. Dengan tubuh lelah karena berkendara 24 jam serta kaki kiri yang bengkak karena darah balik tidak mengalir dengan lancar, setelah melakukan check in di Grand Orchid Hotel . Saya langsung merebahkan tubuh di bed. Proses unloading bagasi dengan terpaksa dilakukan oleh istri dan anak-anak.

Dengan kondisi kaki bengkak yang cukup bikin miris, akhirnya istri mengorder pemijat melalui resepsionis untuk meringankan bengkak di kaki saya. Mengenai kualitas pemijat di hotel, OY pastinya jauh lebih tahu .. wkwkwkwkwk . Bagi saya, tentunya jauh dari yang saya harapkan. Saya masih sempat mendengar si pemijat glegeken beberapa kali, dan mengatakan bahwa anginnya keluar hahahaha . Namun setelah itu saya sudah tidak ingat lagi. Tertidur pulas sepulas pulasnya.

Perjalanan yang sangat berkesan dan sangat menguras fisik serta kesabaran. Mengingat baru kali pertama saya mengemudikan kendaraan sendirian sejauh dan selama ini.

23/12/2013 - ETAPE 2 :
Solo Sukoharjo Wonogiri Wuryantoro Pracimantoro Giritontro Punung Pacitan.


Bangun pagi, Alhamdulillah .. badan terasa segar, dan bengkak di kaki tidak tampak lagi. Setelah mandi dan sarapan bersama keluarga oom HM, tujuan berikutnya adalah jalan-jalan ke Keraton Mangkunegaran . dimana saya sempat beberapa tahun tinggal disana.

Setelah berfoto sejenak, kami harus segera melanjutkan perjalanan karena hujan gerimis sudah mulai turun lagi.


Dari Mangkunegaran, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh abon pak Mesran dan penganan kecil lainnya. Saat hendak keluar kota Solo, perut kami semua kompak minta diisi. Jadilah . Di daerah Solo Baru, kami mampir ke warung Sop Ayam Pak No. Dengan pertimbangan, makanan jenis sop ini dapat diterima oleh semua jenis perut .. terutama Yasmine, si imut putri oom HM.

Perjalanan dari Solo menuju Pacitan, kontur jalan pada umumnya rata dengan cuaca cerah. Di daerah Pracimantoro dan Giritontro, mulai ditemui aspal lepas dan jalanan berlubang meskipun kecil. Sedangkan mulai Giritontro Punung, jalanan mulus dan kaya tikungan.

Lepas Punung menuju kota Pacitan, jalan halus namun sempit dengan kelokan-kelokan menurun tajam serta minus penerangan jalan. Masuk kota Pacitan, hawa terasa sejuk dan sama sekali tidak terasa sebagai kota yang berdekatan dengan pantai. Kami tiba di Hotel Prasasti pada pk. 21:00.

24/12/2013

Berdasarkan petunjuk pegawai hotel, pada pk. 06:30 kami mulai bergerak menuju destinasi wisata pertama di Pacitan .. yaitu Pantai Teleng Ria. Sayangnya disana buka spot untuk mendapatkan sunrise. Namun lumayan lah . Meskipun pasir pantainya tidak putih namun rata dengan ditingkahi deburan ombak yang bersahabat. Lokasi ini cocok sekali untuk anak-anak yang senang bermain air.


Setelah puas jeprat-jepret, perjalanan dilanjutkan menuju Goa Gong.

Gong pada dasarnya merupakan goa kapur dengan ornamen stalagtit dan stalagmit yang indah.

Namun sayang sekali, pemasangan lampu yang berwarna warni oleh pengelola yang bertujuan untuk memperindah goa, menurut saya pribadi .. justru menghilangkan efek natural goa tersebut. K.E.C.E.W.A .


Destinasi berikutnya adalah Pantai Klayar .. perjalanan menuju pantai Klayar masih dapat dikatakan baik karena dapat dilalui oleh kendaraan jenis sedan. Hanya saja kita harus berhati-hati, karena jalanannya sempit dan harus pandai mengantisipasi kendaraan dari depan.

Kurang lebih 300 meter, kami tiba disebuah puncak bukit dengan pemandangan pantai yang luar biasa. Tidak sabar, saya langsung turun sedangkan oom HM dan tante Nita masih sempat jeprat-jepret di ketinggian bukit.


Setelah makan siang dengan menu sederhana di warung terdekat, spot pemotretan bergeser ke sayap kiri, dengan deburan ombak nan dahsyat.


25/12/2013 - ETAPE 3 :
Pacitan Arjosari Tegalombo Balong Jetis Trenggalek Godang Tulungagung Blitar Wlingi Kepanjen Malang.

Selesai sarapan dan check out, pada pk. 08:00 kami mulai bergerak menuju Malang. Sepanjang jalan menuju Trenggalek, saat menyusuri tebing . beberapa kali kami menemui tebing yang baru saja longsor. Perjalanan yang cukup mencekam mengingat tebing yang ada disamping kiri/kanan kami dapat saja longsor sewaktu-waktu.


Tiba di kota Trenggalek, kami sempat makan siang dengan menu khasnya di warung Nasi Ayam Lodho pak Yusuf.


Berdasarkan indera pengecapan saya, bumbu ayam lodho ini mirip sekali dengan sambel goreng krecek.
Ayam dimasak dengan santan dan sedikit pedas.

Setelah beristirahat dan menunaikan kewajiban shalat Dhuhur, perjalanan kami lanjutkan lagi.


Tiba di Malang selepas Maghrib, kami kemudian berpisah. Karena oom HM menginap di Sandubaya Guest House yang berada di perumahan Gajayana, sedangkan saya menginap di rumah Bude di bilangan Bareng Kartini.

26/12/2013 - ETAPE 4 :
Malang Batu Malang Singosari Nongkojajar Wonokitri Pananjakan (Bromo) Pasuruan Malang Surabaya.

Pk. 08:00 saya meluncur menuju Sandubaya Guest House, dan selanjutnya menuju lokasi pariwisata kota Batu. Sampai disana, ternyata lokasi Jawa Timur Park 2 sudah sedemikian penuhnya. Jangankan untuk masuk ke dalamnya . Memikirkan untuk parkir saja sudah kehilangan selera.

Akhirnya, kamipun memutuskan meneruskan perjalanan menuju lokasi Batu Night Spectacular yang berjarak tidak lebih dari 1 Km dari Jatim Park 2.

Ternyata sampai disana pun kami belum bisa masuk lokasi, karena BNS baru buka pk. 15:00. Mau makan siang di Resto Rumah Sosis juga penuh pengunjung. Akhirnya kami semua makan siang bakwan Malang yang mangkal di depan BNS sekedar pengganjal perut.
Untunglah si kecil Yasmine ternyata enjoy saja dengan kondisi darurat hehehehe .



Batu Night Spectacular pada dasarnya tidak se-spektakular namanya.
Bagi orang Jakarta, bila dibandingkan dengan Dufan, BNS tidak lebih dari pasar malam yang menyajikan beberapa wahana permainan.
Sementara anak-anak bermain dengan beberapa wahana, saya dan oom HM cukup puas dengan jeprat-jepret di BNS. Pk. 19:00 kami memutuskan untuk kembali ke Malang setelah memonitor OY yang baru saja sampai Malang.


Sampai di Sandubaya, oom HM memperoleh informasi dari salah seorang pengemudi travel . Bahwa untuk transportasi jeep, ternyata harus booking terlebih dahulu. Dan kondisi saat itu, sudah tidak ada lagi kendaraan jeep yang tersisa. Fully book karena musim liburan seperti ini .. hiks .

Untuk diketahui . Untuk menjangkau Penanjakan dimana para wisatawan menantikan saat terbitnya matahari, wisatawan wajib menggunakan kendaraan jenis jeep yang disewakan disana hingga pada titik tertentu. Selanjutnya untuk mencapai lokasi, dapat dijangkau dengan berjalan kaki ataupun naik ojeg.

Ditengah kebimbangan mengenai tiadanya transportasi dan cuaca yang tidak menentu, keluarlah sifat easy going dari OY. Sudah sejauh ini perjalanan yang kita tempuh, go show saja tidak ada ruginya. Kalau cuaca jelek ataupun memang kita tidak berhasil mendapatkan angkutan jeep . Ya kembali saja ke Malang.

Dan tidak lama, dengan pedenya .. OY bilang lewat Tumpang saja .. kata orang hotel lebih dekat. Nih, gue kirim petanya .. . Dan ternyata yang dikirim adalah urut-urutan daerah yang harus dilalui untuk menuju Bromo .. wakakakaka . Tidak diketahui dengan jelas, arahnya ke Timur/Barat/Utara atau Selatan .. =))

Pada pk. 22:00 kita deal . Dengan keputusan, tetap ke Bromo ! Reaksi pertama saya, adalah . segera tidur di mobil ! Pk. 23:30 saya tersentak bangun dan melihat oom HM ternyata masih tidur . Hahahaha setelah dibangunkan oleh tante Nita, kami segera berkemas. Dan tidak lama, OY menelpon bahwa ybs sudah stand by di tikum Jl. Soekarno-Hatta.


27/12/2013
Setelah oom HM selesai berkemas sekaligus check out, kamipun segera menuju ke tempat OY menunggu. Setelah bertemu OY, saya baru sadar . Ternyata GPS berbasis Google Map dari gadget milik saya yang akan dijadikan andalan. Karena GPS Garmin oom HM belum ter update dan GPS di Pajero milik OY hanya faham daerah Mabes .. wkwkwkwkwk .

Setelah mengisi BBM, kamipun segera bergerak menuju Bromo. GPS mengarahkan kami melalui Singosari dan berlanjut ke Nongkojajar. Setelah beberapa kali melewati jalanan sepi dan sekumpulan rumah perkampungan, tibalah kami di jalanan sepi dan spenuh-penuhnya tantangan. Sempat ada pemandangan yang tidak lazim, saya melewati seorang wanita yang berjalan sendirian (saat itu waktu menunjukkan pk. 02:30) dengan baju daster putih. Padahal diluar udara sangat dingin .. hiiiiyyyyy

Akhirnya tibalah kami di jalanan yang sempit dan gelap pekat (masih untung tidak ada hujan dan kabut saat itu) dengan variasi turunan dan tanjakan dengan kemiringan 45 derajat serta tikungan dengan sudut kurang dari 30 derajat !

Benar-benar diperlukan paduan teknik dan konsentrasi mengemudi yang tinggi serta nyali dan syaraf baja untuk melewatinya. Dengan kontur jalan yang sempit dengan tikungan tajam, salah antiipasi dalam hitungan detik . pasti berakhir di dasar jurang. Contohnya . Gara-gara OY salah over gigi, Chevy Estate oom HM nyangkut . Pajero dengan torsi dieselnya, dengan mudah lepas dari jebakan. Namun oom HM harus bersusah payah mencari posisi untuk bisa mengambil ancang-ancang. Saking gelapnya, tante Nita diminta turun untuk dijadikan patokan agar mobil tidak kecemplung jurang.

Saya sendiri sempat terhenti, karena tidak bisa melihat jalan di depan sama sekali. Setelah turun dari mobil . dengan senter baru terlihat, ternyata jalan menurun 45 derajat, berbelok dengan sudut 30 derajat dan langsung naik dengan kemiringan 45 derajat ! Geloooooo .. !!!

Tiba di desa Wonokitri, kami diarahkan masyarakat setempat untuk parkir. Rupanya, karena daerah ini adalah titik terakhir kendaraan non jeep. Untuk menuju Penanjakan, orang harus menggunakan jeep Toyota Hardtop. Namun setelah dipastikan tidak ada satupun jeep yang tersisa, tiba-tiba seseorang mendekati oom HM dan menawarkan jasanya untuk mengawal hingga Penanjakan. Belakangan kami mengenalnya sebagai JUAIRI. Dengan tawaran Rp. 70 ribu per mobil, dia berjanji akan mengantar hingga puncak Penanjakan sampai kembali ke Wonokitri.

Dan benar saja .. si Juairi ini kesaktiannya memang teruji. Beberapa kali kendaraan kami dihentikan dan lagi-lagi Juari dengan gaya slengekannya meyakinkan bahwa kami tetap bisa terus bersamanya.
Tiba di puncak Penanjakan, waktu menunjukkan pk. 04:30. Tadinya saya berniat jalan kaki saja seperti tahun lalu. Sedangkan istri dan anak saya, saya suruh naik ojeg. Namun begitu melihat langit  sudah menampakkan semburat warnah biru terang, saya memutuskan harus segera naik ojeg karena harus mengejar sunrise. Jujur saja . ditengah begitu banyak kerumunan orang, jeep dan ojeg . Saya tidak tau lagi keberadaan oom HM dan OY. Pikir saya paling nanti ketemu diatas.

Turun dari ojeg, saya segera bergegas menuju tempat semacam balkon yang disediakan untuk para wisatawan menanti saat-saat sunrise, yang memakan waktu tidak lebih dari 10 menit. Namun karena tempat tersebut sudah penuh sesak pengunjung, saya segera menuju ke sayap kiri yang sebenarnya merupakan musholla.



Alhamdulillah segera setelah menemukan tempat yang ideal, dengan menahan dingin yang menggigit, saya menunggu saat-saat yang juga ditunggu-tunggu oleh banyak orang disana.

Setelah puas memotret sunrise, dan turun kembali ke parkiran mobil .. saya baru tau kalau OY sekeluarga ternyata tidak ikut naik karena kedinginan. Dan mendapati oom HM sekeluarga naik ojeg seperti ini . Wkwkwkwk . Kocak abiiiizzzz ..



Dari Pananjakan, Juairi akhirnya bisa mengadakan sebuah jeep dan memasukkan 3 keluarga kedalamnya untuk menuju padang pasir di depan Gunung Bromo . :D

Setelah puas berfoto ria, kami semua sempat terjebak di padang pasir selama hampir 2 jam. Karena mobil yang membawa kami ke padang pasir sedang membawa rombongan lain menuju spot wisata.
Namun karena harus segera check out, OY memutuskan turun lebih dahulu untuk kembali ke Malang, sedangkan kami masih melanjutkan memotret sambil menunggu Yasmine yang dibuatkan mie instan karena lapar xixixixixi .

Akhirnya saya dan oom HM turun melalui jalur Pasuruan. Dan setelah shalat dan makan siang di Pasuruan, kami kemudian berpisah. Oom HM langsung menuju Surabaya dengan tujuan Country Heritage, sedangkan saya ke Malang dulu mengambil baju-baju yang dicucikan di binatu sekalian berpamitan dengan Bude.

Dengan panduan GPS, akhirnya saya tiba di Country Heritage pada pk. 22:00. Setelah mandi, saya segera tidur . Sekaligus menyiapkan fisik untuk keesokan harinya.

Bersambung ....
B/Rgds,

Oom Uban
White Fat Crocs